Kamu, Jatuh cinta yang terlambat

Audzubillahiminasyaitannirrajim

Kesempatan ini, saya gunakan untuk menuliskan tentang kamu. Harapannya, supaya menang lomba menulis writer ranger. Hahaha, ngaco banget ya. Jangan kesal, kamu kan baik. Aheew.
_______________________

Ah, siapa sih kamu? Kenapa saya mau menuliskan tentang kamu, padahal saya gak yakin kamu baca tulisan ini? Kamu bukan sahabat dekat, bukan juga keluarga, apalagi orang yang punya koneksi apapun dengan saya. Kamu cuma, sebuah cinta yang terlambat.

Ada pepatah “lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali”. Aih, usahlah diterapkan dalam perkara saya dan kamu, cukuplah dituangkan lewat tulisan ini saja, menjadi hal yang puas untuk diceritakan, bukan untuk dipermasalahkan. Lagian kamu kan tau, saya tipe orang yang sangat menghindari konflik (hehe, anggap aja kamu tau).

Oke, balik ke alasan di paragraf awal –ah kenapa pulak harus ada alasan untuk sebuah perasaan?? Eeaaa. setidaknya ada tiga alasan mendasar saya jatuh cinta dengan kamu. Eh inget ya, ini jatuh cinta loh, bukan bangun cinta, jadi ya beda. Mau tau bedanya dimana, dengerin nasyid yang judulnya Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta penyanyinya saya lupa. Silakan tanya mbah google.

Gila, Kaya, dan Baik. Itu kamu. Ya, kamu gila,  kaya,  dan baik. See, tiga hal itu alasannya. Bukan karena kamu berkacamata, berponi, keren, tinggi tegap, dan seorang arsitek seperti Ryan Fikri si Mr. Akechi di novel diorama atau dilatasi yang bikin saya tergia-gila itu, hahaha. Kamu manusia biasa, gak muluk-muluk.

Tapi Kamu gila. Pemikiranmu kadang sulit dimengerti, susah dibantah, orang bilang anti mainstream, out of the box, ah banyaklah istilahnya. Meletup-letup, tidak bisa diduga. Tak bisa saya sangkal, karena kegilaan itu saya menjadi bersemangat, menyukai saat ngobrol saya dan kamu yang hanya sebentar dan jadi jatuh cinta meski terlambat. Kalau boleh meminjam salah satu dialog film The National Treasure saya pasti akan bilang “bolehkah saya menikahi otakmu?”. ūüėÄ

Nah, kegilaan-kegilaan berpikir yang sebenarnya filosofis itu, tertuang dalam karya-karyamu dengan bahasa yang kaya, serasa membiarkan orang lain berpikir keras untuk merampoknya, wkwkwk. Andainya kamu ingat, andainya kamu sadar, saya pernah terang-terangan menanyakan dan menyatakan betapa kayanya jiwamu lewat bahasa yang kamu gunakan dalam karyamu. Teruslah berkarya. Banyak yang akan mengambil manfaatnya. In syaa Allah.

Gak perlu pencitraan. Seseorang yang memang membumi, tulus, tanpa pretensi akan selalu terasa meski tanpa lisan dan tulisan yang membanjir. Saya ingat betul saat istimewa saya yang diisi dengan secuil perhatian kamu, kamu yang baik. Kendati begitu, manusia selalu berpotensi mengecewakan. Kecewa atau tidak kecewa, itu soalan saya. Bukan kamu.

Mungkin memang ada alasan, kenapa begini dan kenapa begitu. Tapi yang paling penting yang bisa saya rasakan sejak mengenal kamu adalah saya tetap seorang manusia dengan energi besar akibat mencintai, masih menapak bumi dengan cita-cita harapan dan doa yang menjulang tinggi ke langit dan tetap bersandar pada DIA semata.

Saat saya dengan lantang menyatakan bahwa saya jatuh cinta pada kamu kepada seorang sahabat, dia malah menjawab “yakin jatuh cinta? Bukan kagum?”. Ya baiklah, jangan bikin DIA cemburu, mari kita jadikan itu rasa kagum saja. Tapi, apa harus saya ganti juga judul tulisan ini?? Udah keren loh, judulnya, hahaha.

Jatuh cinta yang terlambat. Tak apalah, nanti akan saya bangun cinta tanpa harus jatuh dahulu.

Kamu, terima kasih.

Sampai berjumpa lagi, KAMU.

Variasi Rajutan pada Kerudung Untuk Jilbaber Kekinian

     Sepakat ya? Kalo saya bilang urusan menutup aurat saat ini justru menjadi tren kekinian. Hampir semua lini aktivitas atau pekerjaan di luar rumah yang melibatkan muslimah sudah memperbolehkan penggunaan hijab, meskipun tidak bisa kita kesampingkan betapa masih banyak dan sulitnya perjuangan muslimah di beberapa tempat  untuk urusan menutup aurat. Menutup aurat kok dilarang, alasannya tidak relevan pula. Ada Рada saja.

     Optimisme tren ini diperkuat juga dengan munculnya banyak sekali desainer Рdesainer yang membidik busana muslim untuk karier dan pasar fashion mereka. Jadi rame kan, tren busana muslimnya, hehe. Kalo dulu hanya ada istilah jilbaber jadilah beberapa tahun belakangan ini muncul istilah hijaber di dunia fashion. Mulai dari bentuk penutup kepala yang bermacam-macam sampai potongan gamis yang semakin bervariasi, begitupun warna, corak, dan bahan yang digunakan. Alhamdulillah.

¬†¬†¬†¬†¬†Saya pun, akhir-akhir ini mau tidak mau ikut memperhatikan tren berkerudung yang berkembang terkait aktivitas saya untuk kembali mempopulerkan jilbaber sebagai pilihan berbusana melalui toko online “Bee Hijab Store” milik saya.

     Bila hijabers adalah pengguna kerudung dengan  banyak variasi tutorial, maka jilbaber adalah pengguna kerudung dengan standar ukuran dan bahan kerudung. Ukuran dilihat dari apakah potongannya menutupi dada, lengan, dan bokong. Sementara bahannya adalah yang tidak transparan serta adem dipakai.Secara umum hanya kurang lebih dua bentuk kerudung yang biasanya digunakan oleh jilbaber yaitu kerudung segiempat dan kerudung instant atau bergo.

     Bentuk segiempat yang paling standar untuk seorang jilbaber adalah ukuran 115 cm x 115 cm sampai 150 cm x 150 cm., tergantung tinggi dan besar tubuh. Untuk bergo biasanya diminati yang ukuran panjang belakangnya (dari tepi belakang pet hingga bokong ) minimal 110cm dan panjang depan (dari dagu hingga ke bawah) minimal 60 cm. Sedangkan untuk bahan yang populer adalah woolpeach, katun dan kaos.
image

    Seiring dengan tren berkerudung yang semakin beragam, jilbaber pun tidak kalah ingin tampil lebih menarik, tentunya tanpa meninggalkan prinsip berkerudung yang dianut. Bentuk kerudung segiempat saat ini lebih bervariasi baik dari warna, bahan (tyrex, paris, katun denim, roberto cavialli, polyester, satin, dan lain sebagainya), maupun corak (monochrome, polychrome, batik dan flower).
image

     Bentuk bergo saat ini pun sudah dikembangkan menjadi semi instant dan khimar dengan varian bahan yang tidak sebatas kaos atau jersey.  Bahkan ada juga saat ini jilbaber yang menggunakan pashmina sebagai variasi jenis kerudung untuk menutup aurat, tentunya tetap dengan memilih ukuran dan jenis bahannya.  
image
     Aksen kerudung pun bervariasi. Variasi detail menggunakan manik-manik, renda, bordir, rajutan, dan aksen layer pada bagian bawahnya, hingga tambahan material lace membuat penampilan lebih terlihat modis tanpa harus terkesan berlebihan. Dan dari semua aksen yang berkembang, saya kemudian tertarik untuk membidik aksen rajutan pada kerudung jilbaber kekinian.

¬†¬†¬†¬† Sebenarnya ini — rajutan bukan hal baru sebagai aksen kerudung. Beberapa tahun lalu saat masih di bangku sekolah menengah atas, saya sempat satu kali berkreasi memberi aksen rajutan pada kerudung segiempat berbahan ceruty milik saya untuk tugas prakarya. Terinspirasi dari tren kerudung dari Sumatra Barat yang dominan bordiran dan rajutan halus saat itu. Sedikit keahlian merajut dasar saya manfaatkan untuk membuat prakarya tersebut. Masih sangat simpel, belum banyak model rajutan, namun cukup bisa dibanggakan, hahaha. Abaikan.

     Dibanding merajut, saya lebih mahir membordir, karena bertahun berkutat dengan aktivitas tersebut saat masih bermukim di ranah minang. Namun, saya lebih tertarik memproduksi sendiri kerudung jilbaber dengan kreasi rajutan halus, karena alat yang digunakan (hanya satu hakpen dan benang ), waktu yang fleksibel ( tidak harus mengkhususkan waktu ), dan tempat yang diperlukan ( tidak terkhusus meluangkan tempat ). Berbeda dengan membordir yang memerlukan alat yang beragam ( mesin jahit dan perlengkapannya ) tempat khusus ( meletakkan mesin ) dan waktu yang harus khusus disediakan.

    Jangan berpikir saya orang yang punya kesabaran yang tinggi sehingga tertarik merajut, hehe. Namun ide ini cukup elok bila dijadikan koleksi kekinian untuk tahun 2016, ketimbang hanya memasarkan dan mempulerkan kerudung jilbaber produksi orang lain. Setidaknya untuk daerah Sorong dan sekitarnya, kota tempat saya bermukim saat ini. Tentunya, kemampuan merajut saya pun harus ditingkatkan
untuk peningkatan kreasi rajutan.

image

     Ini hasil rajutan halus saya yang sederhana sekali. Masih banyak kreasi yang lain. Seperti gambar yang saya ambil disini.

image

    Cantik bukan? Temans berminat, bisa mulai pre order di kolom komentar. In syaa Allah mulai produksi awal tahun depan. Kreasi sesuai kemampuan. Hehehe. Dengan menggunakan benang bordir rajutan ini cocok diaplikasikan pada kerudung berbahan apapun dan pastinya menambah cantik gaya berkerudung temans tanpa harus terlihat berlebihan.

Salam merajut, ^_^
Bee Hijab Store. Pin BB 5538d87a    

     

Sebaik-baik Sedekah

Bismillah

Rasulullah bersabda:

‚ÄúSetiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap tahlil shadaqah, amar ma‚Äôruf shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga shadaqah‚ÄĚ.

Termasuk juga menurut Hadis Nabi, senyum yang tulus ikhlas dan kata-kata yang baik itu sebagai satu bentuk shadaqah. Demikian pula memberikan kebahagiaan kepada orang lain dalam bentuk apapun yang diridhai Allah adalah perbuatan shadaqah.

Dua paragraf di atas adalah dua paragraf yang saya kutip dari link https://www.rumahzakat.org/perbedaan-zakat-infak-dan-shadaqah-2/#.VkybdGRlpoN.

Begitu banyak ternyata cara bersedekah. Tidak melulu tentang materi. Dan berbeda dengan zakat, pun sebuah sedekah dinilai dalam hitungan mata uang, zakat adalah wajib sementara sedekah adalah sunnah. Zakat ditunjukkan sementara sedekah disembunyikan.

Saya pribadi tidak berani sebenarnya menyertakan dalil-dalil tentang sedekah. Minim sekali keilmuan saya tentang hal ini. Bersedekah buat saya pribadi ibarat berusaha mendapat RUMAH, yang berisi BERKAH, namun membutuhkan  Kunci NIAT YANG IKHLAS untuk bisa dinikmati.

Satu yang saya soroti adalah senyum. Temans bayangkan, aktivitas sederhana ini ternyata bernilai sedekah. Tersenyum, hanyalah gerakan menarik bibir dua senti ke kanan dan ke kiri.  Coba praktikkan ini saat bangun pagi, dalam posisi badan tegak dan kaki terjulur, di atas kasur, tersenyumlah,  itu sudah dihitung bersedekah.

Itu baru tersenyum sendiri loh temans. Ya, paling kalau ketahuan sama orang rumah senyum sendiri, akan ditanggapi dengan kernyitan di dahi tanda keheranan, hahaha. Eitts, jangan kuatir lah, segera tersenyumlah pada yang melihat anda kemudian beri sapaan ringan, dijamin kernyitan heran hilang, dihitung bersedekah pula. Dua kali.

Tidak main-main, aktivitas senyum ini sudah digunakan sejak lama oleh para penjual, pedagang, pengusaha, pebisnis atau apalah namanya istilah untuk orang-orang yang berkecimpung dalam praktik jual beli sebagai salah satu formula memikat pembeli dan pelanggan. Ternyata bernilai sedekah. Dahsyat ya tuntunan agama kita.

Saya masih ingat betul, salah satu standar operasional pelayanan saat saya menjadi kasir di sebuah minimarket tenama di negeri ini ( ini gegayaan saja, biar kesannya kerjaan saya itu kece, hihi ) adalah senyum, salam, sapa. Sepaket. Bahkan untuk urusan ini penyelia rahasia akan sengaja datang melihat apakah kasir sudah menjalankan SOP yang satu ini.

Tak pernah susah untuk bersedekah, tak perlu tunggu berkelimpahan materi baru bersedekah, tak ada alasan untuk tidak bersedekah, karena begitu banyak cara untuk bersedekah, materi dan non materi selalu ada ganjarannya dari sang pencipta. Jangan pelit-pelit sedekahnya ya temans.

Seperti yang saya sebut di awal, bagi saya bersedekah seperti berusaha mendapat rumah yang sudah komplit dengan isi (keberkahan). Namun rumah takkan bisa ditinggali kalau terkunci, maka kunci yang membukanya adalah niat yang ikhlas. Sebab itu dalam sudut pandang saya, keikhlasan sangat penting. Keikhlasan disini adalah hanya mengharap ridho Allah swt.

Kita kembali ke kasus pertama soal senyum, sertakan niat keihkhlasan saat anda bangun berselonjor, menegakkan tubuh dan menarik bibir anda ke kiri dan kanan, resapi dan rasakan sensasinya. Pun saat temans dilihat seseorang dalam rumah sedang tersenyum sendiri, sensasinya kemudian tertular pada orang tersebut, saya pastikan temans akan rasakan keberkahan di dalamnya.

Bagaimana dengan senyum dalam dunia perdagangan. Bila aktivitas senyum, salam, sapa diiringi niat yang ikhlas, mengharap ridho Allah tanpa tendensi keduniaan semata, konsumen bisa melirik dagangan kita, bahkan bila merasa pas dengan kebutuhan dan nyaman dengan suasana keakraban penjual dan pembeli, ia akan dengan senang hati menjadi pelanggan, bahkan mempromosikan tempat kita pada yang lainnya. Itu keberkahan. Beda kalau ia hanya dikerjakan sebatas SOP.

Sedekah, hanya akan sempurna membawa berkah dan dicatat amal bila dilakukan dengan niat yang ikhlas. Maka meski hanya sebuah senyum, niatkan dengan ikhlas. Feedbacknya– keberkahan, akan senantiasa temans rasakan. Sebaik-baik sedekah adalah yang disertai niat yang ikhlas.

Saya sudah kapok seperti ini >>> kehilangan dompet lalu ngomong “ah, ANGGAP saja sedekah”. Alih-alih ikhlas, saya malah gelisah dalam penyesalan, dan pada akhirnya sadar itu teguran karena kurang sedekah. Boro-boro berkah.

Glek.

Sketsa : mengenang Papa

Papa,
Apa kabar?
Semoga Allah menempatkanmu di sisiNya yang layak
Dan mempertemukan kita di jannahNya, aamiin

Mereka bilang, 12 november adalah hari ayah. Bergulir semarak ucapan dan ungkapan perasaan pada sosok laki-laki yang darahnya mengalir dalam tubuh kita di berbagai media sosial. Entah siapa pencetusnya.

Mendadak Slide-slide kebersamaan saya bersama papa saya, dan tawa khasnya menyeruak ke pelupuk mata, mengalirkan air yang menganak sungai membasahi pipi. Melankolis.

Papa saya orang sunda tulen, bandung cirebon. Merantau ke sorong sejak muda mengikuti kakak iparnya, seorang polisi. Perawakan tinggi besar–agaknya ini menurun pada saya,¬† seluruh karier beliau dibaktikan sebagai petugas keamanan di pertamina sorong, sejak tahun 1982-2005.

Sempat beberapa kali terbersit keinginan untuk menghabiskan sisa usia di cirebon, tapi kata papa “pa masih betah di sorong”. Maka hingga akhir hayat bahkan dimakamkan pun di sorong.

Sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga, papa adalah idola bagi saya, segalanya. Sejak saya mulai bisa mengingat, segala aktivitas saya selalu melibatkan beliau. Saat sakit, pelukannya yang menyembuhkan. Bahkan saya masih ingat betul saya tidak pernah mau ke dokter gigi kalau tidak ditemani papa.

Beliaulah yang mengajarkan saya dengan penuh kesabaran  belajar naik sepeda. Papa juga selalu jadi tukang foto saya saat mengikuti segala macam aktivitas baik di sekolah atau di luar sekolah. Mengajak saya nonton bioskop, nonton pertandingan olahraga di gedung olahraga kota, dan belajar alat musik keyboard. Papa adalah cinta pertama saya.

Masa kecil yang sangat indah. Dibanding dua adik saya, kenangan indah akan cinta kasih beliau semasa kecil lebih banyak saya miliki. Bila sketsa ini ditulis oleh dua adik  saya, poin tentang masa kecil pasti beda ceritanya, hehe.

Karena sejak papa memutuskan memiliki keluarga yang lain, ketimpangan peran orangtua mulai terasa perlahan. Usia saya sebelas saat itu. Adik-adik saya masih berusia delapan dan tiga tahun. Figur ayah perlahan memudar dalam rumah. Entah bagaimana dengan dua adik saya, namun saat-saat menjelang pernikahan keduanya adalah saat terburuk di masa remaja saya. Saya patah hati untuk yang pertama kali. Hiks.

Ini penting untuk temans, yang calon ayah maupun yang sudah punya anak, bahwa dalam poligami anaklah korban sebenarnya, terlebih anak perempuan. Dan pandangan seorang perempuan terhadap laki-laki bergantung pada pengalaman ia dan ayahnya. Saya tidak menentang sunnah nabi apalagi menantang Allah. Tapi semoga ini bisa jadi pertimbangan temans.

Praktis, sejak saat itu kamus “ayah” hilang dalam keluarga. Terlebih beberapa tahun kemudian kami diboyong mama ke kampung halamannya, sehingga frekuensi bertemu semakin jarang. Kehidupan baru bermula. Beruntung mama saya adalah tipe orang tua yang hangat, bisa dijadikan tempat bercerita, dan mampu menggenapi peran orangtua.

Beberapa kali berjumpa dalam pertemuan singkat saat beliau menengok kami, ada pedih, cemburu dan rasa sayang yang silih berganti hadir. Ternyata saya memang lebih tidak siap untuk diduakan ketimbang mama. Jauh di alam bawah sadar saya, menghakimi tidak ada laki-laki yang setia.

Saat kembali ke tanah kelahiran saya, berkesempatan semakin dekat secara fisik dengan papa, kerap kali bila papa berkeluh kesah saya cenderung balik menjadikannya kambing hitam atas kesuraman  masa depan saya. Memilih untuk tidak terlalu mencampuri urusan beliau dengan keluarga barunya adalah hal terbaik saat itu. Bukan membenci, hanya memberi jarak untuk menghindari luka hati.

Satu kejadian membekas, saat saya dengan penghasilan saya membelikan papa sesuatu tapi kemudian ternyata diberikan untuk istri dan anak lainnya. Meski cemburu, sakit hati, campur aduk yang dirasakan, tapi saat itu saya memahami bahwa saya harus belajar menerima, seorang pria tidak akan bisa mencintai satu wanita, ada anak perempuannya, ada adik perempuannya, ada ibunya, dan yang terburuk adalah wanita lainnya.

Kurang lebih dua tahun sebelum berpulang, papa sakit, diabetes. Saya sempat merawat, hanya sebentar. Setiap bertemu rasanya saya ingin membawanya jauh dan bisa merawatnya dengan baik. Akhirnya, heeuuhh semua berlalu dengan semakin tidak intensnya pertemuan kami.

Entahlah, lagi-lagi campur aduk perasaan, saya  memilih menghindar, hanya terus mendoakan. Saya tidak pernah sanggup membenci beliau, tidak akan pernah. hingga beberapa bulan sebelum meninggal, luka akibat diabetes papa semakin parah. Mungkin saat itu beliau merasa ajal semakin dekat, tapi salah seorang pun anak- anak dari mama tidak pernah muncul. Kebetulan yang di papua saya dan adik perempuan saya.

Beberapa kali sms dan telpon beliau saya abaikan, masa dimana pekerjaan sedang bertumpuk. Hingga saat satu akhir pekan saya mengunjungi beliau, papa menangis terisak berkata merasa diabaikan dan minta dimaafkan atas segala kesalahan. T_T

Hari beliau berpulang, 21 oktober 2014, dalam usia 52 tahun, saya tak sempat menuntunnya. Papa lemas dan mengeluh sakit kepala, menurut anaknya disana prosesnya sangat cepat. Semoga khusnul khotimah. Aamin.

Kenangan saya yang tersimpan, papa selalu jadi orang tua terbaik. Saya menyayangi dan mencintainya. Di akhir-akhir usianya beliau berusaha memperbaiki keadaan, mendapatkan maaf anak-anak dan wanita yang disakitinya. Ikhlas menerima segala perlakuan, dan penyakit yang diderita, bahkan optimis akan bisa berbuat lebih untuk kami di masa depan selama hayat masih dikandung badan.

Sementara saya, masih sangat kurang bakti saya, kerap terhalang ego pribadi. Meski tidak pernah putus mendoakan yang terbaik baginya, saya pongah untuk lebih banyak memberi perhatian padanya, lupa bahwa ada ajal yang memutus kesempatan memperbaiki hubungan. Yang tertinggal hanya penyesalan.

Semoga Allah jadikan saya dan anak-anak beliau salah satu bekal akhiratnya,  anak yang shaleh.

Temans, keluarga adalah anugerah yang tak bisa kita pilih. Salah atau benar, mencintai atau dicintai, di dalamnya selalu tersedia sesuatu yang disebut kesempatan. Tergantung kita,  mau mengambilnya atau tidak, hingga salah seorang pergi meninggalkan yang lainnya di dunia ini.

Yang berperan sebagai ayah, ambil setiap kesempatan menorehkan kenangan indah pada anak. Meskipun pada akhirnya ada banyak kesalahan, ambil setiap kesempatan memperbaikinya, meminta maaf, memaafkan, memberi perhatian.

Pun yang mendapat peran sebagai anak, ambil setiap kesempatan berterima kasih dan berbuat baik pada orang tua, dengan sikap, tutur kata, yang diajarkan oleh agama. Birrul walidain. Birrul walidain. Birrul walidain.

Sungguh, kesempatan itu, hanya ada di antara waktu hidup dan mati. Sementara kematian adalah sesuatu yang pasti tanpa kita tahu kapan waktunya. Manfaatkan, sebelum menyesal.

7dwc tulisan kedua

Cerita pertama

Bismillah

Assalamualaikum wr. Wb

First of all, finally saya bisa nge-blog dan bisa nyombongin diri kalo saya ini seorang blogger. Ahew.

Thank you so much for Dimz, seorang teman di grup kampoeng kata-kata yang udah bersedia ngirimin aplikasi wordpress via surel yang akhirnya berhasil saya unduh. Juga bimbingan om jin Anto (ampun om), sehingga aplikasi ini bisa digunakan semaksimal mungkin.

Alhamdulillah, urat malu saya masih ada. Malu, kalo udah difasilitasi tapi gak dimanfaatkan hehe.

Baiklah, ini cerita pertama saya di blog kece ini. Ehm.

Saya ingin bercerita tentang Kerim. Seorang pria Turki tampan dengan tinggi badan 180 cm, tubuh atletis, sorot mata lembut, rambut agak gondrong dan brewokan, pokoke tipe saya banget. Aheww..

Ciye ciye, udah pada resah nih, pengen nanyain ke saya “kapan nikahnya kak, jangan lupa undangan?”, atau ngomong “ehm, embat aja mbak, cakep ini”, atau yang komen sinis tak percaya dan mata terbelalak ” kenal dimana des? Yakin sama dia? Kerja dimana? Awas jangan-jangan dia udah punya istri, selidiki yang benar. Hum, ingat lo kalian beda kultur, gak sekufu… bla bla bla”. Asli ketawa saya jadinya tiap ngadepin para hello pity.

Well, temans saya baru kurang lebih 3 bulan ini mengenal Kerim, itupun sejak agak rutin nonton telenovela di salah satu channel tv kabel. Jadi.. simpan saja segala rupa pertanyaan tadi, la wong beliau ini cuma tokoh fiktif kok.

Kerim, ya.. hanya seorang tokoh telenovela yang saya ikuti ceritanya akhir-akhir ini.

Dikisahkan Kerim yang hanya seorang anak yatim piatu bersahabat dengan tiga anak orang kaya di kota mereka. Suatu hari salah satu dari mereka bertunangan dan mereka berempat pun minum sampai mabuk di tepi pantai pada malam hari. Seorang wanita bernama Fatmagul melintas di dekat mereka, dan timbul niat bejat mereka. Dan terjadilah… hiks

Kerim yang tidak terlalu mabuk sebenarnya tidak ikut bertindak bejat pada Fatmagul, hanya karena ketiga orang sahabatnya adalah anak orang-orang penting sehingga pada akhirnya muncul intrik dan konflik kepentingan yang mengorbankan Kerim untuk menikahi Fatmagul. Disini sebenarnya awal kisah cinta bergulir.

Sebenarnya, saya bukan penikmat telenovela. Namun channel ini bisa seharian muncul di layar tipi di tempat kerja saya karena pak penjaga rumah yang hobi menontonnya. Ada yang bertanya “loh kok si bapak hobi nonton telenovela?”. Saya hanya bisa berkomentar “telenovela dan rokok adalah obat post power syndrome baginya”.

Lalu apa yang menarik dari Kerim?? Karena  ketampanan sudah pasti kali ya. Siapa sih yang gak betah liat wajah tampan atau cantik, meski hanya sekedar melirik. Saya udah paham rasanya diperhatikan karena kecantikan yang saya miliki. Ehm. Abaikan, abaikan pemirsa.

Satu episode kemudian membuat saya ingin menceritakan karakter Kerim, walau fiktif. Kerim ini, karakternya adalah seorang pandai besi yang terampil dan rajin.

Suatu hari ia mendatangi pelanggan untuk urusan pekerjaan atas perintah atasannya. Singkat cerita,  pekerjaan mampu dilaksanakan dengan baik dan pelanggan pun puas.

Pelanggan tersebut pun menawarkannya untuk berdikari, tidak lagi menjadi bawahan yang diperintah orang lain dan mendapat penghasilan kecil. Menurutnya Kerim memiliki keterampilan yang baik, sehingga pasti akan banyak yang memakai jasanya meski tidak bekerja dengan atasannya yang sekarang. Sekaligus si pelanggan mengatakan akan mempromosikan Kerim tanpa melalui atasannya.

Menjawab tawaran pelanggan tersebut, Kerim hanya tersenyum dan berkali-kali menolak juga menegaskan bahwa ia sudah cukup puas ada di posisi sekarang, berpesan agar bila lain hari membutuhkannya, silakan menghubungi atasannya, mengingat bagaimanapun kemampuannya bisa dikenal dan dinikmati orang berkat atasannya atau induk semangnya.

Mungkin ini hanya selipan dialog tak penting bagi yang fokus di kisah cinta dalam sebuah serial cinta. Tapi episode ini menyimpan kesan mendalam bagi saya mengenai penokohan seseorang tentang integritas, kredibilitas dan etos kerjanya.

Berapa banyak dari kita yang kemudian tergiur dan jumawa dengan pandangan seseorang atas keterampilan kita? Gak usah jauh2 deh,  saya udah pernah merasakannya. Dan jujur cenderung pikiran saya berseberangan  dengan Kerim.

Saat disanjung, kemudian timbul pikiran bahwa sebenarnya saya bisa lebih eksis dan maju tanpa bekerja dengan atasan saya, penghasilan saya bisa lebih besar, bisa jadi itu benar. Terlebih bila terkadang terasa kemampuan saya tidak dihargai dan susah berkembang, jangan tanya bagaimana iming-iming pujian itu begitu menggoda seperti kesan pertama. Bahwa saya mampu dengan kemampuan saya untuk berpenghasilan lebih besar tanpa menjadi pesuruh.

Bukan, bukan saya mencela yang ingin berdikari, namun ini tentang cara —how kita mewujudkan itu.  pesan yang saya tangkap dari dialog Kerim dan si pelanggan adalah bahwa Kerim cukup senang dengan pekerjaannya dan tidak ingin melangkahi atasannya dengan menyerobot pelanggan si atasan. Pada akhirnya cerita yang berkembang adalah Kerim memiliki usaha sendiri, sebuah restoran yang dikelola oleh istrinya fatmagul tanpa harus “tidak sopan” pada atasannya. Karena ia dikenal para pelanggan berkat sang atasan.

Penokohan Kerim semacam sentilan bagi saya atas segala kecenderungan keserakahan dalam diri.Saya lupa, seperti hal nya Kerim, saya tidak mungkin bisa seperti sekarang tanpa andil atasan saya, meski dalam skala kecil. Dan saya yakin tidak ada yang namanya kebetulan dalam hidup ini seperti juga saya kebetulan menonton episode tersebut.

Inilah karakter baik yang tetap harus diasah dalam setiap diri kita, memiliki etos kerja, integritas pribadi, dan etika dalam berhubungan dengan orang lain.

Saya lalu terngiang ucapan mama yang sering diulang” jangan seperti kacang yang lupa kulitnya, memperturutkan keserakahan, menganggap diri hebat, lupa asal-usul, akibatnya menjauhkan keberkahan”. Seolah-olah beliau tahu kecenderungan anak perempuannya ini.

Kesudahannya, setelah episode itu, saya jadi mengikuti kelanjutan kisah Kerim dan Fatmagul bila sempat, dan tetap berharap menemukan belahan hati serupa Kerim, hihi.

Cerita ini, saya tuliskan sebagai pengingat pribadi, bahwa setiap sisi hidup selalu memiliki etikanya masing-masing, sebagai perwujudan akhlakul karimah dalam islam. Bila dilanggar, ada harga yang harus dibayar, cepat atau lambat.

7dwc, tulisan pertama

image